Tunjuk Hidung Saja, Siapa Mafianya Pak Menteri ? ‘Part 2’

Adian
Adian : Tunjuk Hidung Saja, Siapa Mafianya Pak Menteri ? (Foto : pri)

Terkini.id, Cilacap – Jika mengikuti standar WHO maka idealnya masker 3 ply sekali pakai harus di buang. Dengan populasi 260 juta jiwa kira kira perhari kita butuh berapa Masker? Kita anggap saja prioritas kebutuhan Masker perbulan adalah 30% dari populasi yaitu 78 juta masker perbulan. Kalau wabah Corona sampai bulan Juli berarti kebutuhan masker Mei ke Juli sekitar 234 juta masker.

Baju APD. Kita asumsikan ada 200.000 tenaga kesehatan mulai dari Dokter, perawat, supir ambulance, administrasi Rumah Sakit hingga Puskesmas dan relawan yang bekerja 24 jam terkait penanganan virus Corona.

Dari angka asumsi itu berapa kebutuhan APD per hari? Jika menggunakan standar kesehatan maka APD untuk penanganan virus yang sangat menular seperti Corona hanya bisa di gunakan sekali pakai lalu di hancurkan (virus Corona menurut National Intitute of Health USA bisa hidup di bahan plastik selama 3 hari).

Dengan demikian maka dalam satu bulan paling tidak 200.000 orang x 30 hari berarti di butuhkan minimal 6 juta APD. Kalau di hitung Mei ke Juli sekitar 18 juta APD

Sekarang kita hitung Rapid Test. Mari bandingkan dengan beberapa data yang saya dapatkan ini (mohon di koreksi datanya); Spanyol, populasi 46 juta jiwa membeli Rapid Test sebanyak 5,5 juta pcs.

Kuwait, populasi 4 juta jiwa membeli 30.000.000 Rapid test atau tiap jiwa dapatkan 7 hingga 8 rapid test sampai wabah Corona berlalu. Belanda, Populasi 17 juta jiwa membeli sekitar 7,5 juta Rapid test atau sekitar 40 an % dari total populasi, sementara India, populasi 1,3 Milyar jiwa membeli 150.000.000 rapid test atau sekitar 11,5 % dari Populasi.

Bagaimana Indonesia? Kita andaikan saja Indonesia membeli Rapid Test 10% dari populasi 260 juta, maka sejak ditetapkannya situasi Darurat Corona 29 Febuari hingga hari ini, seharusnya sudah siap 26 juta pcs Rapid Test.

Itu baru 3 jenis alkes, kita belum bicara Ventilator, PCR, Disinfektan dan sekian banyak kebutuhan lainnya. Apakah negara sanggup menyiapkan itu semua dalam waktu cepat? Kalau sanggup silahkan tutup impor, kalau tidak mampu ya rangkul seluas dan sebanyak mungkin importir dan mengikat mereka dengan kontrol yang kuat dalam kualitas, distribusi dan harga jual.

Terpenuhinya alkes dan obat corona tidak serta merta membuat masalah selesai seketika, ada banyak masalah lain yg datang bertubi saat ini. Apa saja masalah yang akan segera datang?

PHK Massal dan Pengangguran

Febuari 2020 hingga Awal April 2020 total pekerja yang di PHK dan di rumahkan sudah mencapai 2,8 juta orang dari sekitar 114.000 perusahaan. Jika wabah Corona terus berlanjut hingga bulan Juli maka jumlah PHK bisa melewati angka 5 hingga 6 juta jiwa.

Itu baru menghitung sektor Formal, jika kita menghitung sektor Informal maka angkanya bisa lebih fantastis lagi. Dalam data, masyarakat yang bekerja di sektor Informal mencapai 71 juta jiwa. Kalau kita gunakan asumsi yang paling optimis yaitu 20% pekerja Informal berhenti bekerja maka setidaknya ada 14 juta pengangguran baru.

Jika Formal dan Informal di gabungkan maka bisa jadi di bulan Juli nanti total pengangguran baru akan mencapai paling tidak 21 juta jiwa.

Kelaparan

Mari buka sejarah, di setiap wabah penyakit maka berikutnya pasti diiringi dengan kelaparan yang merebak di mana mana.

Logikanya sederhana saja, wabah penyakit membuat banyak orang harus di karantina. Akibatnya sawah, ladang, kebun, peternakan, beragam industri makanan tutup atau setidaknya mengurangi produksi.

Di sisi lain, naiknya nilai tukar dollar dan PHK dalam jumlah besar besaran baik sektor Formal dan informal membuat daya beli Rakyat untuk membeli kebutuhan pokok menjadi sangat lemah.

Kalaupun pemerintah sanggup menjaga stok beras dan kebutuhan pokok lainnya dengan impor dan beragam cara lainnya, namun demikian, dengan ketiadaan pekerjaan dan pendapatan maka belum tentu juga masyarakat akan mampu membeli beras dan kebutuhan pokok yang di siapkan itu. Ujungnya tetap saja Rakyat kelaparan.

Konflik Sosial

Jika situasi hari ini semakin memburuk dalam 2 atau 3 bulan ke depan maka kondisi Rakyat seperti rumput kering yang mudah terbakar bahkan oleh isu yang sangat remeh sekalipun. Sesepele apapun triger nya bisa menimbulkan ledakan yang mungkin tidak kita sanggup prediksi besarnya.

Potensi konflik sosial dan kriminalitas dalam beragam bentuknya potensial besar terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Bisa Juni, Juli atau Agustus. Kenapa demikian?

Karena beberapa bulan ke depan Ketakutan akan wabah penyakit, keputusasaan pada hilangnya pekerjaan dan pendapatan bercampur di dalam dada yang sama dari tubuh dengan perut yang juga di dera kelaparan. Campuran 3 hal ini bisa menjadi energi kemarahan yang luar biasa.

Kita bisa browsing untuk mencari tahu ada berapa banyak peristiwa dalam beberapa waktu terakhir di beberapa negara sudah terjadi penjarahan, kerusuhan dan kriminalitas yang meningkat tajam.

Melihat rumit dan besarnya masalah yang di hadapi bangsa ini maka menurut saya, lebih baik saat ini semua Menteri dan Kepala Daerah Fokus bekerja untuk mencegah penyebaran virus, mengurangi pengangguran dan menyiapkan ketersediaan bahan pokok.

Menteri dan Kepala Daerah yang punya ambisi jadi Capres 2024 baik nya meredam dulu ambisi nya agar Rakyat dan Negara selamat. Baiknya menteri menteri dan Kepala Daerah bekerja fokus dan jangan menjadi penyebar isu.

Jika ada Mafia segera laporkan pada Presiden, Polisi, Kejaksaan Agung atau KPK, kalau ada Dominasi impor yang tidak adil bawa ke KPPU, semua mekanisme saat ini sudah ada.

Adian Napitupulu
Anggota DPR RI
Pembina Pospera Indonesia

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Berada Dalam Korporasi Tapi Tidak Memahami Korporasi, Lantas Bagaimana Bisa Memperbaiki

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Luncurkan Program Guru Penggerak

Pilkada Cilacap Antara Oligharki, Dinasti dan Aspirasi Rakyat

Menteri Dalam Negeri Mengajak Influencer Ramaikan Pilkada

Kartini dan Gerakan Feminisme

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar