Kepasrahan Pada Tuhan vs Realitas Virus Corona yang Mematikan

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan
Hakim
Penulis Opini : Hakim, seorang Dosen Muda di kampus UNUGHA Cilacap (foto : pri)

Terkini.id, Cilacap – Sepertinya, sudah lazim dalam setiap peristiwa wabah mematikan, sekelompok orang yang punya intensi berlebih terhadap Agama, cenderung membuat klaim-klaim yang terburu-buru perihal adanya aspek ritual agama yang dapat menjadi penangkal wabah secara langsung.

Tulisan ini berawal dari pernyataan salah satu warga yang beredar dimedia sosial, dalam cuitannya mengatakan:

“Banyak yang tidak tahu, bahwa ada seseorang muadzin di German positif Covid 19 dan di rawat di ruang ICU, selama seminggu di saat waktu sholat beliau adzan di dalam ruangan tersebut dan di ledekin sebagai orang gila sama beberapa pasien dan perawat medis di sana.”

“Seminggu kemudian semua pasien yang satu ruangan dengan beliau dinyatakan negatif covid-19. Lalu semua ilmuwan meneliti khasiat adzan melawan covid-19 dan ternyata benar, virus covid -19 tidak bergerak sama sekali jika mendengar suara adzan, bahkan bisa dikatakan mati, inilah awalnya kenapa Spanyol, German, Belanda, dan Italia di perbolehkan adzan berkumandang.

Kepasrahan pada Tuhan vs Realitas Virus Mematikan (Foto ilustrasi : pri)

Cuitan Narasi diatas tentu masih bisa diperdebatkan karena belum didukung, kajian secara ilmiah.

Namun, klaim-klaim semacam itu sulit ditemukan atau malah memang tidak ada buktinya dalam sejarah. Pada abad ke-14, kata Harari, ketika wabah Black Death melanda sebagian Eropa, pemuka agama mengira penyebabnya adalah murka Tuhan, dan karenanya, berdoa dan berkumpul di gereja dipandang sebagai solusi.

Akibatnya, bukannya sembuh, malah semakin banyak yang terinfeksi dan mati karena wabah tersebut.Itu bukan berarti doa tidak ada gunanya. Doa, bagi umat beragama, tetap berguna sejauh ia mengerti cara menggunakannya.

Doa bukan obat. Ia tidak bisa menyembuhkan penyakit mematikan. Doa itu dimensi spiritual yang hanya berfungsi bila didahului aspek tindakan material.

Anda, misalnya, tidak akan kenyang jika tidak ada tindakan material berupa makan, seberapa pun sering Anda berdoa minta kenyang; Anda tidak akan sembuh dari penyakit ganas tanpa ada usaha untuk berobat, seberapa pun khusyuk Anda berdoa. Kecuali memang penyakit ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya.

Masalahnya, orang-orang yang berlebihan dalam beragama, cenderung menyepelekan sains dan bertendensi mengunggulkan ritual agama sebagai solusi utama.

Padahal secara teologis (terutama Asy’ariyah), klaim ini bermasalah karena mengandaikan kepasrahan (doa, adzan, dll.) tanpa tindakan material/prosedur medis (kasb) sebelumnya.

Orang-orang seperti itu memang selalu ada di setiap masa. Nah, saran saya, karena sudah banyak tenaga medis yang meninggal, bagi mereka yang percaya adzan dapat menghentikan corona, sebaiknya mendaftar saja sebagai relawan tenaga medis yang menangani pasien positif corona.

Mulai dari merawat saat sakit sampai pemulasaran jenazahnya. Dan ingat, jangan ikuti protokol medis yang dianjurkan. Tidak perlu pakai perlindungan apa pun. Kan sudah ada adzan sebagai pelindung. Adzan saja terus sepanjang merawat pasien corona.

Keuntungannya besar yaitu:

1. Sebagai bentuk verifikasi ilmiah terhadap satu keyakinan, sehingga jika verifikasi itu sesuai dengan keyakinan yang diasumsikan, derajatnya akan berubah menjadi temuan ilmiah.

Semakin banyak yang berhasil membuktikan melalui pengalaman, semakin kuat nilai keilmiahannya (nanti pasti banyak yang senang karena Agama sesuai dengan sains/agama telah menyediakan jawaban sebelum sains), dan/atau

2. Jika ternyata tidak terbukti, dan para relawan tanpa perlindungan (selain adzan) itu akhirnya terpapar dan banyak yang meninggal, ini pun bagus bagi masa depan Agama.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Kartini dan Gerakan Feminisme

Tunjuk Hidung Saja, Siapa Mafianya Pak Menteri ? ‘Part 2’

Tunjuk Hidung Saja, Siapa Mafianya Pak Menteri ? ‘Part 1’

Optimisme Masuk Surga dengan Memegang Erat Kuncinya

Air Jernih dalam Dunia Maya itu, Bernama Media Online

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar