Biasnya Respon Media Tanah Air Terhadap Panic Buying di Indonesia dan Luar Negeri

Panic Buying
Panic Buying di dalam masyarakat (foto : Terkini Cilacap)

Terkini.id, Cilacap – Panic Buying tidak hanya terjadi pada masyarakat Indonesia saat covid-19 mewabah, tapi juga nyaris di semua negara yang terpapar virus corona itu.

Panic buying (Pembelian karena panik) atau “penimbunan berdasarkan rasa takut” merupakan tindakan membeli barang dalam jumlah besar untuk mengantisipasi suatu bencana, setelah bencana terjadi, atau untuk mengantisipasi kenaikan maupun penurunan harga.

Negara seperti China, Jepang, Amerika, Inggris, dan negara-negara maju lainnya pun banyak melakukan hal yang tak terpuji tersebut.

Mereka melakukan untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan bisnis. Masker, handsanitizer, dan tisu toilet adalah barang paling banyak ditimbun oleh sejumlah warga di negara-negara tersebut hingga berkardus-kardus bahkan 1 gudang.

Ini persoalan moral, emosi, kebutuhan fisiologis, dan rasa aman. Siapapun yang hanya fokus pada kepentingan pribadinya, rendah empatinya, mereka akan melakukan hal yang sama, terutama bagi mereka yang memiliki cukup uang untuk membelinya. Tak ada kaitan antara ras, kulit, budaya, negara, dan agama. Siapapun, jika rendah kepedulian sosialnya, mereka akan memborong keperluan yang berlebihan untuk keperluan jangka panjang.

Masih ingat teori kebutuhan Maslow? Secara hierarkis, kebutuhan paling mendasar manusia adalah kebutuhan fisiologis atau kebutuhan untuk bertahan hidup; makan, tidur, tempat tinggal, oksigen, dll. Diatas kebutuhan fisiologis ada kebutuhan rasa aman. Dua kebutuhan inilah yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini. Perlu keseimbangan emosi antara kebutuhan dasar dan rasa solidaritas/empati.

Kenapa media memframing berita soal panic buying seolah hanya menjangkiti warga Indonesia saja? Karena sebagian besar media kita saat ini banyak terfokus pada kondisi dalam negeri. Sementara kasus panic buying di negera lain, tak sempat (tak berminat/tak tertarik?) untuk merekamnya. Media lebih banyak tertarik melansir berita “baik-baik” yang dilakukan warga di luar negeri sana.

Cilacap 6 April 2020

Indra Rukmana

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap

Konten Bersponsor

Berita lainnya

‘Tekani Tukoni’ Menjadi Satu Cara Wakil Bupati Cilacap Memberdayakan UMKM

Pospera Salurkan Bantuan Paket Sembako, 35 Ribu Warga Menjadi Target

Indahnya Berbagi Bersama Ulinnuha, Juara AKSI Indosiar

Aksi Berbagi KNPI Kroya, Peduli Masyarakat Lemah

Jangan lewatkan Ngapaker, Ulin Akan Kembali Ber – AKSI

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar